Posts

Showing posts from February, 2008

Hari 1

KITA DIWAJIBKAN UNTUK MENGASIHI KELUARGA ALLAH KARENA ALLAH MENGASIHI KITA "Jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi" (1 Yoh 4:11) Mengasihi adalah kata yang sangat indah untuk diucapkan tetapi sangat sulit untuk dilakukan. Mengapa? Pertama, karena mengasihi adalah pekerjaan yang kudus sedangkan kita adalah manusia yang berdosa. Kedua, mengasihi berati commitment to excelent, berani memberikan yang terbaik bagi orang yang kita kasihi, sedangkan kita sudah terbiasa hidup hanya mementingkan diri sendiri. Ingat, mengasihi demi keuntungan diri sendiri bukanlah kasih yang suci tetapi nafsu. Dan mengasihi yang tak mempertimbangkan kekudusan bukanlah kasih yang berasal dari Allah. Allah adalah kasih. Jadi untuk belajar mengasihi, mau tak mau kita harus kembali kepada Allah. Bagaimana caranya? jalin relasi dengannya dan nikmati kasihNya karena kita tidak akan pernah bisa belajar mengasihi dengan kasih yang kudus bila kita sendiri belum pernah ...

Dibentuk melalui Pelayanan

Pada waktu kita melayani Tuhan, sebenarnya siapa yang melayani? kita yang melayani Tuhan atau Tuhan yang melayani kita? kita yang bekerja bagi Tuhan atau Tuhan yang bekerja bagi kita? kita yang berkorban bagi Tuhan atau Tuhan yang berkorban bagi kita? ya memang ada sesuatu yang kita keluarkan didalam pelayanan, entah itu tenaga, pikiran, uang bahkan perasaan, tetapi sesungguhnya Tuhanlah yang lebih banyak bekerja dan berkorban bagi kita. Logikanya demikian, bisa nggak Tuhan membuat orang banyak untuk menjadi percaya dalam sekejap? jawabannya bisa. nah, coba bandingkan dengan apa yang kita lakukan, berapa orang yang kita bawa kepada Tuhan dalam penginjilan pribadi kita? sehari satu?seminggu satu?sebulan satu? entah berapa kalipun pada intinya tetap lebih lambat dibandingkan Tuhan yang kerjakan, betul tidak? Jadi siapa yang berkorban dalam hal ini? Tuhan. Tuhan rela pekerjaanNya menjadi lebih lambat karena Dia mau memakai kita. Kalau begitu mengapa Tuhan mau melibatkan kita dalam pekerj...

Meninggalkan kesenangan demi Tuhan

Sebagai seorang pribadi Musa memiliki potensi untuk sukses didalam hidupnya. ia dididik dengan pola pendidikan yang terbaik (pada saat itu), memiliki kemampuan untuk memimpin, memiliki kepedulian terhadap sesama. Bila Musa memiliki sebuah cita-cita untuk menjadi seorang pemimpin besar dalam hal politik atau ekonomi ada kemungkinan dia bisa berhasil mencapainya. Saya tidak tahu Musa punya cita-cita apa pada saat dia muda, tetapi yang jelas dia telah menghabiskan hidupnya hanya untuk mengikut dan menjalankan panggilan Tuhan yang "tidak enak". Sepanjang hidupnya hanya mengurusi "kepentingan" bangsa Israel saja. Jauh dari cita-cita seorang manusia yang menginginkan kesuksesan dan kebesaran dunia. Ya itulah Musa, dia rela menanggalkan segala cita-cita, keinginan dan hasratnya sebagai manusia demi memenuhi panggilan Tuhan.

Ibrani 11:27-29

SOLA FIDE Semua perjalanan hidup Musa dihiasi dengan imannya kepada Tuhan. Setiap perintah Tuhan dijalankan oleh Musa dengan keyakinannya bahwa Allah pasti melakukan apa yang dikatakanNya, termasuk untuk hal-hal yang mustahil sekalipun seperti membelah lautan. Imanlah yang membuat Musa berani melangkah dan tidak gentar terhadap apapun yang ada dihadapannya. Iman adalah sebuah bukti bahwa Musa memiliki hidup yang bergantung kepada Tuhan.

Ibrani 11:24-26

MENDERITA KARENA IMAN Pernahkan anda menonton film silat atau membaca serita silat tentang kisah pendekar pemanah rajawali yang bercerita tentang tokoh Kuo Cing dan Yang Kou. Yang Kou atau Yo Kang sudah biasa hidup dalam kemewahan, sehingga hal itu membentuk dirinya menjadi orang yang ambisius untuk mendapatkan yang lebih banyak. Pernah dia mencoba hidup dalam kemiskinan tetapi akhirnya dia tidak tahan dan kembali menjadi orang yang kaya. Memang tidak mudah untuk meninggalkan hidup enak dan memilih hidup menderita. Tetapi Musa bisa, dia rela meninggalkan segala kenyamanannya di Mesir dan hidup menderita dengan umat Allah. Mengapa? Alkitab menjawab dengan jelas, karena Iman. Imannya kepada Allah membuat Musa lebih suka menderita demi Kristus dari pada hidup kaya demi diri sendiri. Mengapa bisa begitu? karena dia memandang upah sorgawi jauh lebih besar dari upah dunia.

Ibrani 11:23

IMAN ORANG TUA Like Father like Son, sebuah istilah yang seringkali diungkapkan untuk menyatakan bahwa buah tidak akan jatuh dari pohonnya. Kalau orang tuanya demikian maka demikianlah anaknya. Pernyataan ini benar walapun tidak selalu benar. Bila kita mempelajari kisah hidup Musa maka kita boleh mengambil kesimpulan bahwa Musa adalah salah satu orang yang beriman. Mengapa bisa demikian? karena Musa memang memiliki relasi yang begitu dalam dengan Allah. Selain dari pada itu iman Musa juga diawali dengan iman orang tuanya. Karena Iman orang tuanyalah maka Musa selamat dari malapetaka dan saya yakin orang tuanyalah yang mula-mula menanamkan konsep iman kepada Allah sehingga akhirnya iman Musa terus bertumbuh didalam fase-fase hidupnya.

Kisah Para Rasul 7:38-44

BERBICARA PADA TEMBOK Orang bilang berbicara kepada tembok itu sangat sulit, karena tembok tidak akan mendengarkan omongan kita. Teatapi sesulit apapun berbicara dengan orang tipe tembok tidak sesulit berbicara dengan orang yang tegar tengkuk. Karena orang yang tegar tengkuk kelihatannya mendengarkan dan melakukan apa yang kita sampaikan tetapi dalam waktu sebentar dia akan berubah lagi dan demikian seterusnya berlanjut. Musa sebagai perantara Allah, bertugas untuk menyampaikan kebenaran Firman Tuhan kepada bangsa yang tegar tengkuk. Ini sulit karena membuat Musa makan hati tetapi Musa tetap mau memenuhi panggilan ini.

Kisah Para Rasul 7:30-37

TETAP PERGI WALAU DITOLAK Ada tiga jenis orang yang orang yang akan tetap maju walaupun ditolak. Pertama, keras kepala. Kedua, nekad. ketiga, pekerja keras yang memiliki keyakinan teguh. Musa berani melangkah walaupun ditolak bukan karena dia keras kepala ataupun nekad tetapi karena dia tahu bahwa ini adalah perintah dan panggilan Tuhan yang harus dijalankan. Panggilan Tuhanlah yang membuat Musa berani melangkah menempuh segala resiko dan kesulitan.

Kisah Para Rasul 7:20-29

MEMAHAMI MAKSUD TUHAN Tidak akan ada yang pernah menyangka bahwa bayi yang dipungut oleh putri Firaun di sungai Nil tersebut pada akhirnya akan menjadi seorang "penghianat" bagi bangsa Mesir dan pahlawan bagi bangsa Israel. Musa yang dididik sedemikian rupa dalam hal hikmat orang Mesir ternyata dihatinya tetap tersimpan panggilan Tuhan sebagai seorang yang memimpin gerekan pembebasan bagsa Israel dari belenggu penjajahan. Musa bisa saja menyangkali panggilannya tersebut dan hidup anak sebagai salah satu orang yang berhak meneirima warisan Mesir, tetapi apa yang ditaruh Allah dalam hatinya ternyata tidak bisa dia tahan. Musa mencoba untuk memahami apa yang menjadi panggilan hidupnya setahap demi setahap. Memang cukup mengherankan, Musa seorang yang hidup dan dididik secara Mesir tetapi di dalam hatinya tetap dialiri spirit kebangsaaan, karena memang Allah telah menaruhnya dalam-dalam di dalam hati Musa.

Ulangan 34

AKHIR HIDUP SANG PEMIMPIN Orang tidak akan terlalu peduli bagaimana kita lahir atau mengawali langkah hidup kita. Yang sering menjadi pusat perhatian orang lain adalah bagaimana mengakhirinya. Musa seorang yang mengakhiri hidupnya secara elegan. Mengapa elegan? karena Musa - walaupun tidak diijinkan untuk masuk ke negeri perjanjian- meninggal dunia dengan hati yang puas dengan Tuhan dan Tuhanpun puas dengan dirinya. Musa meninggalkan dunia tanpa mengeluh dan protes karena belum menikmati jerih payahnya - Kanaan. Bagi Musa, hidup di dalam Tuhan sudah cukup dan itu telah memuaskan dirinya. Itulah mengapa saya menyebutkan bahwa Musa adalah seorang pemimpin yang telah menghairi hidupnya secara elegan.

Ulangan 31-32

PEMIMPIN YANG MEMIMPIN SAMPAI AKHIR Apa yang dilakukan oleh seorang pemimpin di masa-masa akhir sebelum pensiun? biasanya dia mulai lemas dan sendirian dan akhirnya mengalami post power syndrome. Tidak demikian dengan Musa, di masa-masa akhir sebelum dia "dipensiunkan" Allah. Musa mulai menulis semua hal yang telah Allah perbuat kepada bangsa Israel dan yang Allah inginkan dari orang Israel, baik dalam bentuk buku ataupun lagu. Tujuannya satu supaya bangsa Israel tidak melupakan Tuhan di negeri yang baru. Kita masih ingat bahwa Musa dipanggil bukan hanya untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir melainkan juga memimpin agar bangsa Israel memiliki hidup yang berpadananan dengan Allah. Oleh sebab itulan di masa-masa menjelang "pensiun"nya Musa maka dia tetap memimpin bangsa Israel untuk tetap berpegang pada Firman Tuhan. Musa, pemimpin yang yang memimpin sampai akhir.

Relasi

Seorang pemimpin datang kepada Tuhan Yesus untuk menanyakan rahasia hidup kekal, lalu Tuhan Yesus berkata "ikuti semua perintah Tuhan", sang pemimpin menjawab "itu semua sudah saya lakukan sejak masa mudaku" Kata Tuhan Yesus " Satu lagi kekuaranganmu .... jual seluruh hartamu dan berikan pada orang miskin lalu ikutlah Aku" Sang Pemimpin itu akhirnya meninggalkan Tuhan Yesus dengan sedih karena hartanya banyak Notes:Si Pemimpin ini adalah orang baik dan sangat 'rohani' tetapi ada yang salah dalam hidupnya yaitu dia tidak menjalin relasi dengan Allah, relasinya hanya dengan uang.

Tali Sipat

Amos 7:7-9 Tali Sipat adalah alat ukur atau alat penimbang yang gunanya untuk melihat apakah sebuah bangunan tersebut lurus atau tidak. alat ini sangat penting karena akan membantu mata kita yang terbatas. Allah menyatakan bahwa Dia akan menaruh tali sipat ditengah bangsa Israel, mengapa? karena bangsa Israel sudah berlaku bengkok, dan Allah mau mereka menjadi sadar dan akhirnya menjadi lurus kembali. Bagi kita Firman Tuhan adalah Tali Sipat yang akan mengukur apakah kita masih lurus dihadapan Tuhan atau tidak. Jangan pernah mengukur diri dengan ukuran diri sendiri karena hanya akan menghasilkan ukuran yang salah dan kompromi. Pakailah ukuran Allah, tali sipat Allah yaitu Firman Tuhan.