Iman Yang Berasal Dari Pendengaran

Keluaran 14

Tekanan hidup dapat membuat seseorang berubah. Bisa lebih baik atau lebih buruk. Ada orang yang memiliki daya elastisitas yang tinggi sehingga dia berpikir untuk tidak menyerah terhadap tekanan, justru tekanan tersebut dimanfaatkannya sebagai sarana untuk membuat dia melambung lebuh tinggi. Tetapi ada orang yang memiliki daya elastisitas yang rendah, doa hanya menerima keadaan dan menyerah kepadanya, alhasil kondisinya menjadi lebih buruk.
Tekanan dapat juga mempengaruhi iman. Oleh sebab tak heran jikalau banyak orang kristen yang meninggalkan Tuhan karena tidak tahan terhadap tekanan. Tetapi ada juga yang mampu tetap bertahan walalupun hidup dibawah tekanan, salah satunya adalah Musa.
Tekanan apa yang dihadapi oleh Musa? environment
  1. Alam. Alam sekita Musa adalah Alam yang sangat tidak menguntungkan. Di hadapan terbentang luas laut teberau yang tidak mungkin mereka seberangi (karena mereka tidak memiliki kapal atau perahu), dan disekeliling mereka terbentang padang gurun yang luas (melarikan diri kep padang gurun sama dengan bunuh diri), sedangkan Firaun dan tentaranya semakin mendekat. Situasi ini sungguh sangat menegangkan.
  2. Kepanikan. Saya membayangkan situasi pada saat itu pasti dipenuhi terikan banyak orang yang sedang panik. Orng berteriak-teriak penuh dengan ketakutan, mereka berusaha menyelematkan diri dan harta mereka masing-masing. Kondisi yang seperti ini adalah kondisi yang sangat tidak mengenakkan.
  3. Complain. Musa diserang dengan compalin dari bangsanya sendiri. Mereka menyalahkan Musa dan Tuhan yang telah membawa mereka kepintu kematian.

Ditengah environment yang seperti ini sungguh sangat tidak enak. Kepala kita akan menjadi pusing, hatipun akan ikut gelisah, pikiran akan menjadi kacau balau, sulit untuk mengambil keputusan yang tepat. Menjadi tenang dan tetap beriman dalam situasi yang seperti ini adalah hampir mustahil. Tapi tidak demikian dengan Musa. Musa tetap kelihatan tenang dan beiman, oleh sebab itu dia meminta bahwa bangsanya menjadi tenang, diam, dan melihat bagaimana Tuhan berperang dengan mereka.

Wow, dari mana iman dan ketenangan Musa yang seperti ini? pengalaman? bukan. Musa memang memiliki pengalaman hidup dengan Allah, tetapi Musa tidak mendasari imannya dari pengalaman. Iman Musa hanya didasarkan pada pendengarannya terhadap Firman Tuhan. Ketika Tuhan berfirman bahwa Tuhan akan menghancurkan Mesir (Keluaran 14:1-4), Musa begitu yakin dan percaya akan kebenaran Firman Tuhan tersebut. Dan hal itulah yang membuat Musa sangat yakin dengan imannya dan hal itulah yang membuat dia tetap tenang ditengan environment yang kacau balau.

Iman jika didasari oleh hal lain selain Firman Allah, maka kita ibarat orang yang mendirikan rumah diatas pasir yang akan roboh bila gelombang tekan datang. Sedangkan Firman Tuhan akan membuat rumah kita tetap berdiri koko, karena Firman itu ibarat batu karang yang kokoh.

Comments

Popular posts from this blog

Tali Sipat

TAK ADA ALASAN