Ezra: Pengantar

Restorasi

Restorasi atau pembaharuan adalah kata yang tepat untuk menggambarkan isi keseluruhan kitab Ezra. Ada dua hal yang direstorasi oleh Ezra yaitu pembangunan bait suci dan pembangunan rohani bangsa Israel.
Bagi bangsa Israel, keberadaan bait suci bukan hanya sebagai tempat untuk beribadah saja melainkan sebuah identitas sebagai umat Allah. Keberadaan bait suci mewakili kehadiran Allah ditengah umatNya. Kehancuran bait suci memang tidak secara langsung mengartikan bahwa Allah telah meninggalkan umatNya, karena pada hakekatnya Allah tidak dibatasi oleh sebuah gedung, tetapi hal tersebut menunjukkan ‘lambang’ bahwa bangsa Israel sedang dibawah penghukuman Tuhan. Dan bagi Israel ditinggalkan (dibuang) oleh Allah adalah sebuah penghukuman yang paling berat.
Pembangunan bait suci buakan hanya sekedar pembaharuan tempat ibadah saja, melainkan pembaharuan identitas sebagai umat Allah. Oleh sebab itu fokus dari Ezra bukan hanya kepada bait suci secara fisik tetapi kerohanian umat Allahpun sangat diperhatikan, itulah sebabnya Ezra melakukan restorasi yang kedua yaitu hati (kerohanian).
Di tempat pembuangan, kehidupan rohani bangsa Israel sudah tercemar. Ketecemaran tersebut diakibat oleh perkawinan campur dengan bangsa yang tidak mengenal Allah. Dan inilah yang membuat kerohanian bangsa Israel berada dititik bawah. Dosa yang dilakukan mereka tersebut menjadi dosa nasional, karena yang terlibat bukan hanya golongan tertentu melainkan hampir semua golongan.
Dibagian akhir kitab Ezra, bangsa Israel ditegur dan diminta untuk bertobat dengan cara meninggalkan perkawinan campur. Mengapa hal tersebut harus dilakukan? Apa yang salah dengan perkawinan campur? Perkawinan campur dilarang bukan karena Allah tidak menyukai bangsa lain. Dalam sejarah ada wanita-wanita dari bangsa lainpun tetap dipakai oleh Tuhan, misalnya Rahab dan Rut. Allah adalah Allah yang mengasihi semua bangsa. Tetapi masalahnya pada saat itu adalah perkawinan campur yang dilakukan bangsa Israel telah membuat mereka tidak lagi menyembah Allah. Itulah penekanannya, terang dan gelap tidak bisa bersatu. Dalm hal ini juga tidak berarti bahwa Allah mengijinkan perceraian, tetapi ini masalah kekudusan. Perkawinan yang dilakukan oleh bangsa Israel bukalah perkawinan yang kudus, dan segala sesuatu yang tidak kudus harus dilepaskan. Sekali lagi, masalah ini tidak boleh dilihat dari sisi yang salah. Intinya, Ezra sedang membangun kerohanian bangsa Israel supaya bangsa ini menjadi bangsa yang kudus di hadapan Allah.
Dari kitab ini kita bisa belajar banyak hal, kita bisa belajar dari pribadi Ezra sendiri, bagaimana kedekatannya dengan Allah, komitmen dan kerja kerasnya. Kita juga bisa belajar bagaimana tangan Allah secara luar biasa menolong bangsa Israel, bagaimana Allah bisa memakai orang-orang diluar bangsa Israel (para raja Persia) untuk mewujudkan pembangunan bait suci. Tetapi inti pelajaran dari kita Ezra adalah restorasi. Restorasi bait suci adalah hal yang penting tetapi restorasi hati – sebagai bait Allah juga – jauh lebih penting.
Ezra bukan hanya mempersiapkan tempat untuk beribadah tetapi juga mempersiapkan hati umat Allah untuk beribadah. Ibadah kepada Allah yang kudus hanya bisal dilakukan oleh orang-orang yang sudah dikuduskan oleh Allah.
Bila kita mau menarik pelajaran dari kitab Ezra ini kepada masa kini, khususnya bagi kita jemaat GKY. Mari kita belajar bahwa pembangunan tempat ibadah dengan segala kelengkapannya adalah hal yang penting, kerena hal tersebut akan membuat ibadah kita menjadi lebih baik, tetapi perlu kita sering bertanya dalam hati, “sejauh apakah hati jemaat GKY siap untuk beribadah kepada Allah?”. Ingat bahwa Alkitab sudah menyatakan bahwa hati kita adalah bait Roh Kudus, oleh penting sekali bila kita juga memperhatikan restorasi hati kita sebagai umat Allah. [R]

Comments

Popular posts from this blog

Tali Sipat

TAK ADA ALASAN